Showing posts with label emira. Show all posts
Showing posts with label emira. Show all posts

Tuesday, 4 May 2010

CV

CV
curriculum vitae |kəˈrik(y)ələm ˈvēˌtī; ˈvītē| (abbr.: CV)
noun ( pl. curricula vitae |kəˈrik(y)ələ|)
a brief account of a person's education, qualifications, and previous experience, typically sent with a job application.

Have you ever made one yet? I haven't and I have no clue what I'm supposed to write on that piece of paper. I barely talk about my own achievement to other people, let alone typing it all for total strangers to persuade them in hiring me.

But whatever my worries are, I know I should do it now 'cos I don't want to put my future on hold. So, wish me luck! : )

Saturday, 1 May 2010

Nyo- what?



gnocchi |ˈnäkē|
plural noun
(in Italian cooking) small dumplings made from potato, semolina, or flour, usually served with a sauce.

Untuk resep kali ini, gue dan Ibhe masak gnocchi with chopped tomatoes, seasoned chicken breast, sugarsnap peas and mozzarella yang kita dapet dari sini dengan beberapa modifikasi.

Lagi-lagi resep yang simple dan mengenyangkannnnnn!

Sayangnya Monic tidak disini :(

Chicken Run


Resep yang sangat mudah dan simple untuk dicoba;

Roast chicken with Italian herbs (hasil belanja Ibhe di Spanyol saat gue ditinggalkan selama 2 minggu lebih) dengan baby potatoes ikut di roast bersama ayamnya.

Lupa foto pas udah jadinya karena nafsu makan tidak tertahankan lagi


Thursday, 19 November 2009

MONEY!

"Money can't buy you happiness but it does bring you a more pleasant form of misery."
Spike Milligan.

To be honest, I completely agree with the quote above. Why? Because it describes how I feel about the existence of money nowadays. But in my opinion, how pleasant the misery is depends on HOW you manage the money itself. And for me, I only get the misery without any pleasure these days -_-"

Ironis emang, melihat gw yang ngambil economics with finance as major pusing tujuh keliling karena uang. Tapi perlu diketahui, hal ini bukan berarti uang yang dikirim orang tua gw pas-pasan, cuma anaknya aja yang dungu dalam mengatur keuangan. Mungkin itu salah satu alasan kenapa orang tua meng-encourage gw untuk ngambil ekonomi kali ya...

But put that aside, one might wonder how complicated is it to actually maintain my expenses. Buat gw pribadi, baju dan atribut-atribut kewanitaan lainnya bisa lebih gampang gw hindari (shoes are the hardest one though), tapi tidak untuk yang namanya MAKANAN! Bagi orang-orang yang udah kenal gw, mungkin udah ga terlalu heran melihat kapasitas perut gw yang sepertinya lebih gede dari karung beras. Tapi hal itu sama sekali tidak membantu gw dalam mengatasi temptation akan berbagai macam makanan yg ada di sini. From all kind of crisps, cakes, chinese food, you name it and I will definitely love it! Tanpa melihat haram atau halal, semua gw telen bulat bulat (I know I'm being sinful, but at least I realized the food contained with pork AFTER I finished it)

Selain makanan, satu hal lagi yang menjerumuskan gw ke penderitaan adalah biaya transportasi. Even though I love British public transportation, it rips me off! 50 pound lebih bisa habis dalam sebulan cuma untuk train and tube. One solution that I encounter is not going to London every once a week, tapi melihat diri gw yang bakal berjamur kalo tinggal di dorm, for now I'd rather go somewhere than rot myself.

So,I'll ask you, what do you think I should do to make my misery more pleasurable? Any kind of suggestions will be considered : )



Wednesday, 21 October 2009

TRANSITION

Setelah berminggu-minggu mendekam diri di kamar dan menjadi ansos (baca: anti sosial), gw mencoba untuk nongkrong lebih lama di dapur saat makan malam. Hasilnya.... tidak seseram dan seliar yg gw perkirakan, mengingat gw pernah melihat insiden pelemparan bermacam barang jam 12 malem dari dapur gw yang di lantai 2. Walaupun gw lebih menjadi seorang penonton dan hanya berkomentar sedikit, at least they know me and we shared a nice laugh together : )


Oh satu lagi, gw baru aja ikutan kelas bahasa portugal, dan pronunciationnya ga semudah yg gw kira. Walaupun begitu, at least gw ga harus belajar alfabet baru seperti klo belajar bahasa jepang ato arab. Rasanya aneh emang belajar bahasa yang bener-bener baru di lidah maupun telinga, tapi on the bright side, seru juga belajar sesuatu yang baru, apalagi it's totally FREE : D


Gw bakal kasih tau progress gw menjadi a real university student tapi itu harus nunggu karena tugas-tugas udah mulai menumpuk,so as for now, adeus. Boa noite : )

Friday, 2 October 2009

Thank God It's Friday (but not for me)

Aku sedih

Duduk sendiri

Mama pergi

Papa pergi

Kuambil tali...

Bagian lirik/puisi di atas mungkin udah pernah didengar sama sebagian anak-anak Indonesia, dan ini tepat sekali mendeskripsikan keadaan gw sekarang (ganti kata 'mama' dan 'papa' menjadi 'flatmates').


Kenapa? Karena tepatnya detik ini, persis di depan pintu kamar gw, terdengar suara flatmates gw yg smuanya adalah the real British kids with the infamous British accent (yg selalu gw assume instead of talking, they're actually murmuring) lagi siap-siap untuk clubbing. Yeap, you hear me, clubbing. Oh fyi, everything is legal when you're 18 in UK, jadi mau clubbing, mau smoking, mau drinking, mau apapun itu sah alias legal lo lakuin di sini.


Kalimat-kalimat seperti, 'what are you wearing?', atau 'I don't know what to wear for tonight', lengkap dengan aksen inggris yang kental beberapa kali gw tangkap dari percakapan mereka di balik pintu kamar gw. Bisa gw bayangin perempuannya dengan heels, revealing clothes,ga peduli dengan cuaca yang dingin, plus full make up, sedangkan laki-lakinya dengan shirts, jeans with pockets full of condoms (it's legal, and safe!). Ga peduli dengan curfew atau rules karena ga ada orang tua yang ngawasin, it's all great..for them. Tapi, gimana gw? Masih memakai celana jeans yang ga tau kapan terakhir dicuci, t-shirt biasa dan tidak lupa kaos kaki bintang-bintang. I bet they're ready to drink, dancing around and flirt with strangers, but what about me? In front of the computer for hours, having a long chat with cousins and friends to kill the boredom. Pathetic isn't it?


The funny thing is, or ironic part for some of you, pas gw lagi chatting sama salah satu partner in crime gw di Inggris, Danya, tentang hal yang gw alami, dia juga bilang dia mengalami hal yang sama malam ini. Sendirian di kamar, depan komputer, sedangkan anak-anak yang lain lagi sibuk bersosialisasi. So much for studying abroad when we still end up being trapped in our own rooms -__-"


Apakah kita jealous dengan keadaan kita yang berbeda sama anak-anak lainnya yang sibuk dengan nightlife? Ga tau untuk Danya, tapi untuk gw sendiri, gw sama sekali ga tertarik untuk clubbing, well except the drinking part (I'm fond of any kind of liquor ; p) Lagipula, going to places with people you only know for several days is not really a good choice. Bukan berarti gw bilang apa yang mereka lakuin sekarang salah, cuma buat gw yang baru mencium udara Inggris kurang dari sebulan, yang masih perlu adaptasi dengan sekitar, I think I'll just take it down slowly. I'm taking the the stairs rather than the elevator for now.


But for the bright side, besok pagi gw bakal sarapan sama nyokap gw, lalu siangnya ke London bareng Danya untuk ke KBRI ketemu pelajar Indonesia lainnya, dilanjutin sama nonton film : ) I hope tomorrow's gonna be a great day, unlike today!


Wish me luck : )


Emira